Penggunaan media sosial berlebihan dikaitkan dengan peningkatan kasus kecemasan dan depresi di kalangan anak muda. Studi menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap konten “sempurna” di platform seperti Instagram dan TikTok dapat memicu perasaan tidak cukup baik (inferiority complex).

Beberapa gejala yang sering muncul:

  • Fear of Missing Out (FOMO) – Takut ketinggalan tren atau aktivitas populer
  • Perbandingan sosial – Merasa hidup tidak sebaik orang lain
  • Gangguan tidur – Kebiasaan scroll media sosial sebelum tidur mengganggu kualitas istirahat

    Baca Juga : Dampak Media Sosial ke Kesehatan Mental Anak Muda

2. Cyberbullying dan Dampak Psikologisnya

Media sosial seperti ambrokerindonesia.id menjadi wadah baru untuk perundungan digital (cyberbullying), yang efeknya lebih berat daripada bullying konvensional karena bisa terjadi. Korban sering mengalami:

  • Penurunan kepercayaan diri
  • Isolasi sosial
  • Dalam kasus ekstrim, ide bunuh diri

Platform seperti Twitter dan Facebook telah meningkatkan sistem pelaporan, tetapi anak muda tetap perlu edukasi tentang cara menghadapi dan melaporkan cyberbullying.

3. Ketergantungan Digital dan Gangguan Perhatian

Kecanduan media sosial memicu:

  • Penurunan produktivitas – Rata-rata anak muda menghabiskan 3-4 jam/hari di media sosial
  • Gangguan fokus – Kebiasaan multitasking antara media sosial dan aktivitas lain mengurangi kemampuan konsentrasi
  • Hubungan sosial yang dangkal – Interaksi online sering menggantikan komunikasi tatap muka

4. Media Sosial sebagai Sarana Dukungan Mental

Di sisi positif, media sosial juga bisa menjadi alat untuk:

  • Menyebarkan kesadaran kesehatan mental – Kampanye #MentalHealthAwareness membantu mengurangi stigma
  • Komunitas support system – Grup diskusi atau forum seperti Reddit memberikan ruang aman untuk berbagi cerita
  • Akses ke profesional kesehatan mental – Banyak psikolog dan konselor yang aktif memberikan edukasi melalui Instagram atau YouTube